Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Tuesday, March 10, 2009

Membudayakan Cuci Tangan Pakai Sabun Sejak di Bangku Sekolah Dasar

Masih tingginya angka kematian yang di akibatkan oleh Diare menyebabkan para praktisi dan pekerja kesehatan harus bekerja keras untuk mengurangi angka kematian yang disebabkan oleh diare. Selain cara pengobatan untuk para pendirita diare di upayakan juga promosi dan kampenye pencegahan penyakit diare salah satu kampanye yang sangat gencar di gaung kan oleh para praktisi kesehatan adalah kampanye cuci tangan pakai sabun. Dengan promosi dan kampanye tersebut diharapkan seluruh komponen masyarakat akan bergerak untuk melakukan cuci tangan dengan sabun pada waktu - waktu yang di perlukan.

Waktu - waktu penting yang wajib untuk melakukan cuci tangan pakai sabun adalah:
  • Sebelum dan sesudah makan
  • sebelum menyiapkan makan
  • sesudah buang air besar di toilet
  • setelah menyentuh sampah ata kotoran
  • setelah membersihkan bayi
  • setelah bekerja atau bermain bagi anak - anak
Walaupun kegiatan cuci tangan merupakan hal yang gampang dan mudah untuk dilakukan tapi masih sedikit masyarakat yang telah memperaktekkannya bahkan menjadikan kegiatan cuci tangan menjadi kebiasaan yang harus dilakukan secara continue.

Untuk itu kita harus membidik anak - anak sekolah dasar agar dapat menjadi agen penggerak dan promosi cuci tangan dengan sabun. diharapkan dengan terlibatnya anak - anak sekolah dasar mempromosikan cuci tangan tersebut akan mempercepat penyebaran praktek cuci tangan yang di motori oleh anak - anak di bangku sekolah dasar.

Agen anak - anak tersebut akan menyebarkan informasi tentang pentingnya cuci tangan pakai sabun kepada teman - teman sebayanya di sekolah dan di lingkungan rumah secara terus menerus. Diharapkan satu agen anak dapat menyampaikan informasi cuci tangan pakai sabun kepada 5 orang anak yang berbeda setiap harinya, dengan demikian dalam satu bulan pesan tentang cuci tangan pakai sabun akan menyebar ke 150 anak.
Apabila di satu sekolah dasar memiliki 20 agen anak yang nyeberkan dan menyampaikan pesan cuci tangan pakai sabun makan dalam sebulan akan ada 3000 anak yang akan mendapatkan pesan cuci tangan pakai sabun.

Dengan disampaikannya pesan tersebut secara terus menerus di harapkan anak - anak akan terbiasa melakukan dan memperaktekkan cuci tangan pakai sabun setiap harinya pada waktu-waktu yang penting untuk cuci tangan. Nantinya akan menjadi kebiasaan anak - anak untuk mencuci tangan dan menjadi budaya bagi anak- anak di sekolah dasar untuk mencuci tangan. Diharapkan praktek cuci tangan dengan sabun akan menjadi wabah yang baik bagi anak - anak sekolah dasar yang akan merubah pemikiran orang dewasa untuk mau dan ikut mempraktekkan cuci tangan pakai sabun.

Ponari korban exploitasi anak oleh keluarga


Dalam beberapa bulan ini kita tidak henti - hentinya mendengar berita tentang sepak terjang dukun cilik ponari, dari awal cerita mendapatkan kekuatan, banyaknya pasien yang datang dari hari kehari, kasus pasien yang meninggal ketika ingin berobat pada ponari, dikeluarkannya ponari dari sekolah karena habis masa izinnya sampai pada kasus penutupan tempat praktek ponari. Informasi terbaru dukun cilik ponari tentang keluarga ponari yang akan mempersiapkan pengacara untuk menuntut polisi yang telah menutup praktek dukunnya dengan alasan sejak prakteknya ditutup ponari jadi suka marah -marah.

Bila kita melihat kepermasalahan sebenarnya, keinginan keluarga ponari mempersiapkan pengacara untuk menuntut polisi bukan hanya karena ditutupnya praktek kerja ponari. Alasan yang dinyatakan oleh pihak keluarga bahwa sejak ditutupnya tempat praktek ponari jadi sering marah-marah hanya merupakan kamuflase saja. Karena yang sebenarnya dengan di tutupnya tempat praktek tersebut maka mata pencarian keluarga akan suram, keuangan akan merosat dan tidak siapnya keluarga kembali kepada kondisi awal yang hidup dengan kesederhanaan. kemarahan ponari di jadikan alat agar praktek ponari dibuka lagi, dengan dibukannya praktek maka keuangan keluarga akan membaik kembali dan mesin pencetak uang siap beroperasi kembali.

Sejak ponari tercipta sebagai mesin pencetak uang (mendapatkan sedekah dari hasil prakteknya), keluarga telah melupakan kodrat ponari sebagai anak - anak yang memiliki hak untuk bermain dengan teman-temannya, bersekolah untuk dapat hidup dalam zamannya, tidur siang, mendapatkan kasih sayang. Keluarga telah terlena dengan jumlah uang yang masuk ke kotak amal dalam jumlah yang besar setiap harinya, tanpa perlu bersusah payah mereka mendapatkan uang melalui praktek ponari. Keluarga telah menjajah ponari dengan pemaksaan kehendak yang meharuskan ponari bekerja terus menerus tanpa henti membuka praktek hingga sang dukun cilik sendiri akhirnya jatuh sakit kerena keletihan dan lelah melayani beratus-ratus bahkan beribu-ribu pasien yang datang.

Keluarga tidak menyadiri atau berpura-pura tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka telah melakukan exploitasi terhadap ponari. Keluarga selalu mengatakan sayang pada pasien dan juga ponari apabila sang dukun cilik tidak membuka praktek padahal yang sebenarnya tidak ada secuilpun kasih sayang yang mereka berikan kepada ponari karena mereka sebenarnya hanya sayang pada diri mereka sendiri. Dalam benak dan fikiran mereka apabila praktek ponari di tutup maka tamatlah sudah kehidupan mereka, karena mereka harus kembali bekerja untuk menghidupi keluarga mereka masing - masing.

Sebenarnya keluarga ponari adalah orang - orang yang kejam yang memakai pertolongan sesama sebagai kedok mereka. Karena keluarga telah merampas hak - hak ponari untuk hidup, bebas bermain, dapat bergaul bersama teman-temannya dan masih banyak hak-haknya yang telah terampas oleh keluarga ponari sendiri.

Diharapkan kepada keluarga utuk dapat menghentikan perbuatannya untuk mengexploitasi ponari dengan kedalih menolong sesama. Biarkan ponari menikmati kebahagian yang menjadi haknya, biarkan sang dukun cilik bermain bersama temannya. Dan Wahai orang tua Ponari terlebih lagi sang ibu, Apakah kalian sebagai orang tua tidak meresa iba terhadap ponari yang siang malam harus bekerja keras hanya untuk memenuhi keinginan dan ketamakan para anggota keluarga, sadarlah ia masih anak - anak, ia masih butuh orang tua untuk tempat ia mengadu dan berbagi kasih, jangan biarkan dia menanggung beban hidup yang masih belum pantas untuk ditanggungnya.